Sabtu, 17 September 2011

apresiasi prosa


1.   Pengertian apresiasi karya sastra prosa
-    Apresiasi sastra ialah penghargaan (terhadap karya sastra) yang didasarkan atas pemahaman (Sudjiman 1990:9).
-   Apresiasi sastra adalah penghargaan dan pemahaman atas suatu hasil seni atau budaya (Natawidaja 1981:1).
-   Apresiasi sastra adalah penaksiran kualitas karya sastra serta pemberian nilai yang wajar kepadanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang sadar dan kritis (Tarigan 1984:233).
-    Apresiasi sastra adalah penimbangan, penilaian, pemahaman dan pengenalan secara memadai (Hornby 1973:41).
-   Apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga timbul pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra (Effendi 1982:7).
Dari beberapa pendapat di muka dapat disimpulkan bahwa apresiasi karya sastra prosa adalah suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan penilaian atau penghargaan terhadap nilai-nilai karya sastra yang berbentuk prosa yang didasarkan atas pemahaman, penelitian atau pengamatan dan pengalaman.
     Pengertian kajian karya sastra prosa
-    Kajian beasal dari kata “kaji” yang berarti pelajaran, penyelidikan (tentang sesuatu). Bermula dari pengertian kata dasar yang demikian , kata kajian menjadi berarti proses, cara, perbuatan mengkaji, penyelidikan (pelajaran yang mendalam), penelaahan (KBBI 1999:431)
-    Kajian adalah sesuatu penelitian, penafsiran, dan penilaian dengan kata lain adalah “analysis” (Yantofdl 2009:http://mulutmanusia.blogspot.com).
-  Kajian adalah proses rasionalisasi dan pembuktian empiris terhadap kepercayaan/ketidak percayaan menjadi pemahaman/ilmu pengetahuan    (Rizqi 2010:http://rezqizone.blogspot.com)
     Dari beberapa pendapat di muka dapat disimpulkan bahwakajian karya sastra prosa adalah suatu proses kegiatan mengkaji, menyelidiki, menganalisis sebuah karya sastra prosa (baik novel, novelet, cerpen, cerbung, roman) dengan melakuan pembuktian berdasarkan pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan yang telah dilakuan).
     Pengertian kritik karya sastra prosa
-    Kritik Sastra adalah pertimbangan baik buruk karya sastra (Hudson 1955:260).
-    Kritik Sastra adalah usaha untuk membeda-bedakan pengalaman (jiwa) dan memberi penilaian kepadanya (Richards 1970:7).
-    Kritik sastra adalah studi yang berhubungan dengan pendefinisian, pengelolaan (pengklasan), penguraian (analisis), dan penilaan (evaluasi) (Abrams 1981:35).
-   Kritik sastra adalah bidang studi sastra untuk “menghakimi” karya sastra, untuk member penilaian, dan keputusan mengenai bermutu atau tidaknya suatu karya sastra yang sedang dihadapi kritikus (Pradopo 1994:10).

     Dari beberapa pendapat di muka dapat disimpulkan bahwa kritik karya sastra prosa adalah suatu upaya menerangkan, menguraikan, dan mengembangkan karya sastra prosa (baik novel, novelet, cerpen, cerbung, roman) dengan menyangkutpautkan unsur-unsurnya, kemudian menyelidiki atau memeriksa satu per satu, kemudian menentukan berdasarkan teori-teori penilaian karya sastra, baru sesudah itu, memberi pertimbangan bernilai atau tidak bernilaikah, bermutu atau tidak bermutukah bagian-bagian atau unsur-unsur karya sastra yang telah diselidiki atau yang dianalisis itu.

     Pengertian resensi karya sastra prosa
-       Resensi adalah pertimbangan atau pembicaran buku (KBBI 2009:425).
-       Resensi berasal dari bahasa latin 'recensere' artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai. Punya maksud atau makna sejajar dengan review dalam bahasa Inggris (Soewandi 1977).
-       Resensi berarti hasil pembahasan dan penilaian
yang pendek tentang suatu karya tulis(Sudjiman 1984).

     Dari beberapa pendapat di muka dapat disimpulkan bahwa resensi karya sastra prosa itu mengacu kepada mengulas sebuah karya sastra prosa (baik novel, novelet, cerpen, cerbung, roman) dengan melakukan kegiatan memberi arti penilaian, mengungkap secara sekilas, membahas, atau mengkritik karya sastra prosa tersebut.
    
     Perbedaan antara apresiasi, kajian, kritik, dan resensi karya sastra prosa
   Perbedaan antara apresiasi, kajian, kritik, dan resensi karya sastra prosa agaknya akan sulit dibuktikan atau diidentifikasikan jika kita berhenti pada kata karya sastra, karena baik apresiasi, kajian, kritik, maupun resensi karya sastra itu absah atau sah menjelajahi seluruh fenomena karya sastra. Perbedaan keempatnya mungkin baru jelas jika kita memperhatikan ciri-ciri perilaku yang harus ada dalam keempat kegiatan tersebut. Sejalan dengan pengertian yang sudah dikemukakan di muka, dapat dipahami bahwa apresiasi karya sastra prosa itu lebih merupakan suatu seni (kiat), sedangkan kajian, kritik, dan resensi karya sastra prosa itu lebih merupakan kegiatan keilmuan. Sehingga sebagai suatu seni (kiat), apresiasi karya sastra prosa menekankan perilaku pengindahan, penikmatan, dan penghargaan sastra.Sebagai keilmuan kritik karya sastra prosa menekankan perilaku pencarian, penilaian, penghakiman kebenaran niai-nilai atau segala sesuatu yang ada dalam karya sastra prosa.Kajian karya sastra prosa menekankan perilaku meneliti atau perilaku pengamatan, penjelasan segala sesuatu yang ada dalam karya sastra prosa.Resensi karya sastra prosa menekankan pertimbangan dan pembicaraan karya sastra prosa.Hal ini melibatkan, dalam apresiasi karya sastra prosa berlangsung adanya peneriman sepenuhnya karya sastra prosa, sedang dalam kritik, kajian, dan resensi karya sastra prosa berlangsung adanya pencurigan ataupenyangsiankarya sastra prosa.Dengan demikian apresiasi karya sastra prosa lebih meminta keakraban antara pembaca dan karya sastra prosa, sedang kajian, kritik dan resensi karya sastra prosa justru meminta keformalan antara pengkritik dan pengkaji dan karya sastra prosa. Hal ini dapat diibaratkan bahwa dalam apresiasi karya sastra prosa, hubungan antara pengapresiasi dengan karya sastra prosa merupakan hubungan dua kekasih (bukan orang lain), sementara dalam kritik  dan kajian karya sastra prosa, hubungan pengkritik, pengkaji dengan karya sastra prosa merupakan hubungan orang lain.
2.   Kajian terhadap novel Ronggeng Dukuh Paruk

MENGKAJI TOKOH SRINTIL
DI DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI

          Setelah membaca novel trilogi yang terdiri atas Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala karyaAhmad Tohari tersebut, tentulah seseorang ikut merasa pilu, perih, sedih, dan terharu. Novel trilogi karya Ahmad Tohari tersebut dapat dipahami satu persatu, akan tetapi lebih nikmat apabila dipahami  secara menyeluruh. Namun, dalam kajian ini, sayaakan memberi batasan pada tokoh Srintil. Dalam kajian ini saya menggunakan teori kajian Moral-Filosofis. Kalau lakon Srintil dibatasi dalam Ronggeng Dukuh Paruk, yang tampak adalah perjalanan hidup gadis remaja Srintil yang yatim piatu dan miskin di Dukuh Paruk hingga menjadi penari ronggeng terkenal dan berkecukupan dengan segala macam suka dukanya. Saat Srintil masih bayi, dia sudah ditinggal mati oleh Ayah dan ibunya, dan diusianya yang baru 11 tahun harus menghadapi kenyataan yang menyedihkan pula. Meskipun disanjung banyak orang dan hidup berkecukupan, Srintil harus tunduk pada tradisi  peronggengan upacara bukak klambu yaitu semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki manapun dan yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Termasuk mengorbankan kemungkinannya hamil dan berpantang mencintai seorang laki-laki.Padahal diam-diam Srintil merindukan Rasus teman sepermainannya semasa kecil.Untunglah, Srintil telah menyerahkan keperawanannya kepada Rasus justru di saat paling genting menjelang upacara bukak klambu.Namun,dalam tradisi bukak klambu, sepertinya pengarang ingin menyampaikan tentang pengalaman etis dan moral yang mengacu pada pengalaman yang menyajikan bagaimana seharusnya sikap dan tindakan manusia sebagai manusia dan pengalaman yang melukiskan benar salahnya sikap dan tindakan manusia serta pengalaman bagaimana seharusnya kewajiban dan tanggung jawab manusia sebagai manusia. Mungkin novel Ronggeng Dukuh Paruk sudah dianggap sebagai penyimpan dan perawat norma-norma etis dan moral yang ideal bagi masyarakatnya, bukan karena semata-mata karya sastra yang imajinatif dan fiksionalitas, namun karena membaca karya sastra itu berarti menyelami dan mengarungi samudra nilai-nilai etis hingga ke relung-relungnya. Sikap dan tindakan tokoh Rasus saat mendengar syarat terakhir yang harus dipenuhi oleh Srintil bernama bukak klambu merupakan salah satu bentuk pemberian pengalaman-pengalaman etis dan moral. Untuk memperjelas hal ini, perhatikan dan bacalah kutipan novel “Ronggeng Dukuh Paruk” (Ahmad Tohari) berikut ini.
          Aku mengira upacara permandian di pekuburan itu adalah syarat terakhir sebelum seorang gadis sah menjadi ronggeng.Ternyata aku salah.Orang-orang Dukuh Paruk mengatakan bahwa Srintil masih harus menyelesaikan satu syarat lagi.Sebelum hal itu terlaksana, Srintil tak mungkin naik pentas dengan memungut bayaran.
          Dari orang-orang Dukuh Paruk pula aku tahu syarat terakhir yang harus dipenuhi oleh Srintil bernama bukak klambu. Berdiri bulu kudukku setelah mengetahui macam apa persyaratan itu. Bukak klambu adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki mana pun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati virginitas itu.
          Keperawanan Srintil disayembarakan. Bajingan ! Bajul buntung !pikirku.
          Aku bukan hanya cemburu. Bukan pula sakit hati karena aku tidak mungkin memenangkan sayembara akibat kemelaratanku serta usiaku yang baru empat belas tahun. Lebih dari itu. Memang Srintil telah dilahirkan untuk menjadi ronggeng, perempuan milik semua laki-laki.Tetapi mendengar keperawanannya disayembarakan, hatiku panas bukan main. Celaka lagi, bukak klambu yang harus dialami oleh Srintil sudah merupakan hukum pasti di Dukuh Paruk. Siapa pun tak bisa mengubahnya, apa pula aku yang bernama Rasus. Jadi dengan perasaan perih aku hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi.
          Jauh-jauh hari Kartareja sudah menentukan malam hari Srintil harus kehilangan keperawanannya. Untuk itu kartareja sendiri harus mengeluarkan biaya. Tiga ekor kambing telah dijualnya ke pasar. Dengan uang hasil penjualan itu dibelinya sebuah tempat tidur baru, lengkap dengan kasur bantal dan kelembu. Dalam tempat tidur ini kelak Srintil akan diwisuda oleh laki-laki yang menenangkan seyembara.
          Sementara waktu suara calung lenyap dari Dukuh Paruk. Kartareja sedang giat membuat persiapan pelaksanaan malam bukak klambu itu. Dukun ronggeng itu rajin keluar Dukuh Paruk untuk menyebarkan berita. Hanya dalam beberapa hari telah tersiar kabar tentang malam bukak klambu bagi ronggeng Srintil. Orang-orang segera tahu pula, Kartareja menentukan syarat sekeping uang ringgit emas bagi laki-laki yang ingin menjadi pemenang.
          “Saatnya telah sayatentukan pada Sabtu malam yang akan datang,” kata Kartareja pada suatu pagi di hadapan banyak laki-laki di pasar.
          “Dan sampean meminta sekeping ringgit emas ?”
          “Ya, kukira itu harga yang patut,” jawab Kartareja.
          “Ah,” lenguh laki-laki yang bertanya tadi.
          “E … Kenapa ? Terlalu mahal ?Ingat baik-baik. Pernahkah ada ronggeng secantik Srintil ?”
          “Itu benar Srintil memang ayu dan kenes. Tetapi siapa yang memiliki sebuah ringgit emas di Dukuh Paruk ?”
          “Oh, saya tak pernah bermimpi seorang laki-laki Dukuh Paruk akan memenangkan sayembara. Jangankan ringgit emas, sebuah rupiah perak pun tak dimiliki oleh laki-laki Dukuh Paruk. Aku tidak berharap mereka mengikuti sayembara.”
          Berita tentang malam birahi itu cepat menyebar ke mana-mana, jauh ke kampung-kampung di luar Dukuh Paruk.Banyak perjaka atau suami yang tergugah semangatnya. Tetapi sebagian besar segera memadamkan keinginannya setelah mengerti apa syarat untuk tidur bersama Srintil pada malam bukak klambu. Sebuah ringgit emas senilai dengan harga seskor kerbau yang paling besar.Hanya beberapa pemuda yang merasa dirinya sanggup mengalahkan tantangan itu.
          Tiga hari sebelum Sabtu malam. Sebuah lampu minyak yang terang telah dinyalakan di rumah Kartareja.Pintu sebuah kamar sengaja dibiarkannya terbuka. Dengan demikian sebuah tempat tidur berkelambu yang masih baru bias dilihat orang dari luar. Tutup kasurnya putih bersih, demikian pula bantalnya. Bagi semua orang Dukuh Paruk yang biasa tidur di atas pelupuh bamboo, pemandangan seperti itu sungguh luar biasa. Sore itu banyak perempuan dan anak-anak Dukuh Paruk dating ke rumah Kartareja hanya dengan tujuan melihat tempat tidur itu.
          Aku sendiri ada di sana. Tidak masuk ke dalam rumah, karena dari empatku berdiri di sudut halaman sudah dapat kulihat tempat tidur berkelambu itu. Bila orang-orang memandangnya dengan kagum, aku melihat tempat tidur itu dengan masgul.Muak bercampur marah.
          Bagiku, tempat tidur yang akan menjadi tempat bagi Srintil melaksanakan malam bukak klambu, tidak lebih dari sebuah tempat pembantaian. Atau lebih menjijikkan lagi. Di sana dua hari lagi akan berlangsung penghancuran dan penjagalan. Aku sama sekali tidak berbicara atas kepentingan birahi atau sebangsanya. Di sana, di dalam kurung kelambu yang tampak dari tempatku berdiri, akan terjadi pemusnahan mustika yang selama ini amat kuhargai. Sesudah berlangsung malam bukak klambu, Srintil tidak suci lagi.Soal dia kehilangan keperawanannya, tidak begitu berat ku rasakan. Tetapi Srintil sebagai cermin tempat aku mencari bayangan Emak menjadi baur dan bahkan hancur berkeping.
          Membayangkan bagaimana Srintil tidur bersama seorang laki-laki, sama menjijikkannya dengan membayangkan Emak melarikan diri bersama mantri itu. Aku muak.Aku tidak rela hal semacam itu terjadi. Tetapi, lagi-lagi terbukti seorang anak dari Dukuh Paruk bernama Rasus terlalu lemah untuk menolak hal buruk yang amat dibencinya. Jadi, aku hanya bisa mengumpat dalam hati dan melidah. Asu buntung !
          Masih dari tempatku berdiri, aku melihat Srintil keluar. Merah bibirnya karena Srintil makan sirih.Rambutnya yang kelimis terjurai menutupi sebagian pundaknya yang mulai berisi. Perempuan-perempuan serta anak-anak segera mengelilinginya di balai-balai. Guman pujian mulai didengungkan oleh para perempuan itu. Kulihat Srintil tertawa riang. Apa yang salah bila gadis sebesar Srintil bersenang hati mendengar segala macam pujian.
          Melihat bagaimana cara para perempuan Dukuh Paruk memuji Srintil maka aku yakin setiap diri mereka berharap kiranya anak perempuan mereka kelak seperti Srintil. Menjadi ronggeng.Atau para perempuan itu menyesal mengapa kaki mereka pengkor, atau pipi mereka tambun, atau bibir mereka seburuk bibir kerbau sehingga tak bakal layak menjadi ronggeng. Tak tahulah !
          Boleh jadi aku akan tetap melamun berang bila gerimis tidak turun. Tak kuduga gerimis kali ini menguntungkan. Para perempuan dan anak-anak yang merubung Srintil segera bangkit bergegas pulang ke rumah masing-masing. Aku sendiri hanya maju beberapa langkah dan berteduh di emper rumah Kartareja. Srintil baru melihatku setelah aku berada di bawah naungan emper itu.
          “He ? Engkau di situ, Rasus ?” Tanya Srintil. Nadanya bersuka cita.
          “Ya.”
          “Sudah lama ?”
          “Sejak sebelum gerimis.”
          “Mari masuk.Temani aku.Kartareja dan istrinya sedang pergi ke rumah kakekku, Sakarya.Aku seorang diri sekarang.”
          Srintil menarik tanganku.
          Aku menurut. Kami berdua duduk di atas lincak. Srintil terus bergerak seperti kanak-kanak. Ah, dia memang masih kanak-kanak. Usianya sebelas atau dua belas tahun.Meski begitu Srintil menangkap suasana yang lesu pada diriku.
          “He, kau seperti malas bercakap-cakap. Kau segan menemaniku di sini ?”
          “Tidak.Sama sekali tidak.”
          “Tapi kau hanya berkata bila kutanya.Kenapa ?”
          “Tutup pintu kamar itu dulu.”
          “Lho, kenapa ?”
          “Aku tak ingin melihat tempat tidur itu mesti Kartareja memamerkannya buat semua orang.”Kataku agak ketus.
          Srintil termangu sejenak.Tak usah lama berpikir rupanya Srintil mengetahui juga mengapa aku berkata demikian. Naluri seorang perempuan. Lama kunanti tanggapan Srintil. Tetapi mulutnya yang mungil dan merah masih terkatup. Dia hanya bangkit memenuhi permintaanku menutup pintu kamar itu. Derit pintu bambu dan lenyap dari pandanganku tempat tidur yang akan menjadi ajang Srintil melepaskan keperawanannya.
          “Ya, Rasus aku tahu. Kau tak usah berkata bayak aku sudah tahumengapa kau membenci tempat tidur itu.”
          “Hmm ?”
          “Dan engkau tahu bahwa aku senang menjadi ronggeng, bukan ?”
          “He-eh.”
          “Lalu ?”
          “Yah, aku hanya ingin bertanya padamu; bagaimana perasaanmu mengahadapi saat Sabtu malam itu ?”
          Aku tidak segera mendapat jawaban. Kulihat seorang gadis kecil sedang berfikir tentang sesuatu yang baru baginya. Bukan hanya baru, melainkan juga sesuatu yang menjadi salah satu tonggak sejarah biologisnya. Mungkin selama ini Srintil hanya terpukau oleh janji Kartareja bahwa sebuah ringgit emas yang diberikan oleh laki-laki pemenang akan menjadi miliknya. Kemampuan pikirannya hanya sampai di situ.
          “Bagaimana ?” tanyaku mengulang.
          “Entahlah, Rasus. Aku tak mengerti,” jawab Srintil sambil menundukkan kepala.
          “Tentu kau senang karena kau akan memiliki sebuah ringgit emas.Kukira begitu.”
          “Aku tak mengerti, Rasus.Yang jelas aku seorang ronggeng. Siapa pun yang akan menjadi ronggeng harus mengalami malam bukak klambu. Kau sudah tahu itu, bukan ?”
          “He-eh.”
          “Atau begini, Rasus. Bukankah kau telah disunat ?”
          “Sudah tiga tahun.Kenapa ?”
          Srintil diam. Dikibaskannya rambutnya ke belakang.Wajahnya menunduk.Kemudian tanpa melihatku ronggeng itu berkata.
          “Misalnya Rasus. Misalnya.Engkau mempunyai sekeping ringgit emas.”
          “Selamanya aku takkan pernah mempunyai sebuah ringgit emas,” jawabku cepat. “Aku hanya mempunyai sebuah keris kecil warisan Ayah, dan satu-satunya milikku yang berharga itu telah kuserahkan padamu. Kini engkau pasti tahu aku tak mempunyai apa-apa lagi.Kau harus tahu hal itu, Srintil.”
          Mata Srintil terarah lurus padaku. Tak lebih dari sepasang mata anak-anak. Aneh juga.Dari pemilik sepasang mata itu aku mengharap terlalu banyak. Tetapi aku tak merasa bersalah. Tidak. Karena pada saat itu misalnya, ketika Srintil menatapku tajam, aku teringat Emak. Emakku yang mati dan mayatnya dicincang. Atau Emakku yang lari bersama mantra keparat itu, dan sekarang barangkali berada di deli, negeri khayali yang berada di batas langit.
          Kutoleh Srintil. Dia masih menatapku dengan cara seorang bodoh. Padahal yang kuharapkan waktu itu adalah pernyataan Srintil bahwa ia tidak akan menempuh malam bukak klambu karena dia telah memutuskan tidak akan menjadi ronggeng. Ah, keinginan gila yang mustahil terlaksana. Lucunya, aku menyadari hal itu sebaik-baiknya.
          Suasana yang bisu membuatku tak betah. Srintil pun kulihat gelisah di tempatnya.Aku tak tahu apalagi yang patut kuperbuat, atau layak kukatakan kepada Srintil. Jadi aku bangkit tanpa berucap berang sepatah kata dan berjalan kea rah pintu.
          “Engkau mau kemana, Rasus ?” kata Srintil.
          “Pulang.”
          “Jadi engkau mau pulang ?”
          “Ya.”
          “Jadi engkau mau pulang, Rasus ?Di luar masih gerimis,” ujar Srintil di belakangku.
          Aku terus berjalan.Lepas di halaman, kain sarung kututupkan ke atas kepala. Ketika membalikkan badan kulihat Srintil masih berdiri di bawah atap emper. Sebenarnya aku tidak meninggalkannya dengan sepenuh hati. Tetapi aku terus berjalan. Sampai di rumah aku langsung merebahkan diri ke atas lincak.
          Hujan turun makin lebar.Alam menghiburku dengan tiris lembut menyapu tubuhku yang tergulung kain sarung. Aku tidur melingkar seperti trenggiling. Dengan demikian panas tubuhku agak terkendali.Tidur di atas pelupuh kala hari hujan. Kenangan yang tak terlupakan bagi anak-anak Dukuh Paruk. Aku terlena, larut dalam prjalanan alam pedukuhan kecil itu. Jumat malam.
          Kemarau, sungguh-sungguh telah berakhir. Siang hari hujan turun amat lebat. Lapisan lumpur yag telah berbulan-bulan mengeras seperti batu, kini terendam air sawah luas yang mengelilingi Dukuh paruk menjadi pulau. Hanya jaringan pematang tampak membentuk  kotak-kotak persegi yang sangat banyak. Tetapi tanah pematang rapuh dan longsor bila terinjak kaki.
          Burung bluwak, kuntul, dan trintil muncul kembali.Selama kemarau mereka mengungsi di tanah-tanah paya di muara Citanduy. Sebentar rumpun-rumpun bambu di Dukuh paruk akan ramai oleh berbagai burung air. Mereka berkembang biak di sana seperti dilakukan oleh nenek moyang mereka entah sejak berapa abad yang lalu.
          Dukuh Paruk akan melewati bulan-bulan lembab. Lumut akan tumbuh pada dinding bambu atau tiang kayu yang basah. Jamur akan tumbuh pada kayu mati atau dahan yang lapuk. Cacing menjalar di emper-emper. Orong-orong membuat galur-galur di bawah balai-balai. Kutu air dan kudis akan kembali merajalela pada kaki dan tangan anak-anak Dukuh paruk. Dan orang-orang di sana akan menerimanya sebagai kebiasaan alami.
          Selagi Dukuh Paruk berhiaskan genangan air di mana-mana, menjelang senja kelihatan seorang pemuda sedang bergegas ke sana. Dower, pemuda itu, tidak memedulikan pematang panjang yang becek. Dia terus berjalan. Cekat-ceket bunyi telapak kakinya ketika diangkat dari lumpur. Kain sarung tidak dipakainya melainkan disilangkannya di pundak. Bilai dipakai kain sarung Dower pasti akan belepotan.
          Hanya satu hal yang memenuhi benak Dower. Segera sampai ke Dukuh Paruk dan mengetuk pintu rumah Kartareja. Makin dekat ke pedukuhan itu Dower makin terbayang akan sebuah tempat tidur ber-kelambu. Putih bersih denga kasur dan bantal yang baru.Dan yang paling penting; seorang perawan kencur yang terbaring di dalamnya.
          Memenangkan sayembara bukak klambu bukan hanya menyangkut renjana birahi. Bukan pula hanya menyangkut suka cita mewisuda seorang perawan, melainkan juga kebanggaan. Dower sungguh-sungguh berharap kelak orang akan bergunjing, “Ternyata Dower bukan pemuda sembarang. Dialah orang yang memenangkan sayembara bukak klambu bagi ronggeng Srintil.”
          Menginjak tanah Dukuh Paruk, hati Dower makin kacau. Hari sudah benar-benar gelap.Lampu-lampu telah dinyalakan.Langit pekat meski hujan belum lagi turun. Selagi tanah basah, jengkerik dan gangsir malas berbunyi. Orong-orong menggantikannya. Serangga tanah itu menggetarkan sayapnya yang menimbulkan suara buruk dan berat. Katak dahan berterik-teriak.Tidak seperti kodok atau katak hijau, katak dahan bersuara selang waktu yang jarang.
          Ada sebuah gardu ronda di perempatan jalan kecil di Dukuh Paruk. Dower mendengar gumam beberapa pemuda dari dalam gardu itu. Seandainya Dower tahu, pemuda-pemuda dalam gardu itu sama seperti dirinya, datang dari luar Dukuh Paruk dalam kaitannya dengan sayembara bukak klambu. Namun mereka hanya ingin melihat perkembangan apakah telah ada seorang pemuda datang memenuhi permintaan Kartareja akan sebuah ringgit emas. Mereka sendiri tidak mempunyai uang sebanyak itu. Namun, kesempatan mereka mungkin terbuka bila tidak ada pemuda yang sanggup memenuhi syarat yang ditentukan oleh Kartareja. Dalam hal terjadi demikian, diharapkan Kartareja akan menurunkan tarifnya.
          Tidak seperti malam-malam sebelumnya, rumah Kartareja sudah sepi sejak sore. Dukun ronggeng itu telah mengusir anak-anak yang datang. Tetapi orang-orang tua tidak perlu kena usir. Mereka, orang-orang Dukuh Paruk, telah maklum Kartareja sedang menghadapi hajat penting, dan tidak ingin mengganggunya.
          Sinar lampu mengenai tubuh Dower ketika dia mencapai halaman rumah Kartareja.Pemuda itu berhenti sejenak. Dari sana Dower dapat melihat Kartareja sedang duduk seorang diri, mengepul-ngepulkan asap rokoknya. Di samping makan sirih, kakek itu juga perokok yang kuat.
          Sesungguhnya Kartareja sedang gelisah.Namun perasaan itu tertutup oleh ketenangannya.Sudah Jumat malam. Seorang pemuda pun belum juga datang memenuhi harapannya, menyerahkan sekeping ringgit emas bagi keperawanan Srintil. “Alangkah malu bila sayembara bukak klambu yang keselenggarakan tidak berhasil. Sia-sialah tiga ekor kambing yang telah kujual,” piker Kartareja seorang diri. Tetapi lamunan dukun ronggeng itu berhenti ketika pintu depan berderit.
          “Kula nuwun” Dower mengucapkan salam.
          “Mangga,” jawab Kartareja. Dijulurkannya lehernya sambil menyipitkan mata. Sinar lampu membuat matanya silau. “Oh, mari masuk”
          Dower melangkah di bawah tatapan Kartareja. Lalu duduk. Berderit bunyi pelupuh lincak yang didudukinya. Kartareja segera tahu tamunya datang dari jauh karena mendengar napas Dower yang terengah-engah.
          “Engkau kelihatan lelah. Dari mana engkau datang, Nak ?”Tanya Kartareja membuka percakapan.
          “Dari Pecikalan, kek. Namaku Dower.”
          “Wah, Pecikalan ?Alangkah jauh.”
          “Yah, Kek. Itulah, jauh-jauh saya datang karena saya mendengar kabar.”
          “Tentang bukak klambu bukan ?”
          “Benar, Kek.”
          “Waktunya besok malam.Engkau sudah tahu akan syarat yang kuminta, bukan?”Tanya Kartareja tanpa melihat tamunya.
          “Saya sudah tahu.Sebuah ringgit emas,” jawab Dower datar.
          “Betul. Apakah kau sekarang telah membawanya ?”
          “Dower tersipu. Dia tidak berani mengangkat muka.Kartareja melepas napas panjang.Dalam hati dia mengeluh, karena belum muncul sebuah ringgit emas yang diinginkannya.
          “Wah, Kek,” kata Dower akhirnya. “Pada saya baru ada dua puluh rupiah perak.Saya bermaksud menyerahkannya kepadamu sebagai panjar.Masih ada waktu satu hari lagi. Barangkali besok bias kuperoleh seringgit emas.”
          Kartareja tidak segera member tanggapan.Kecewa dia. Diisapnya rokoknya dalam-dalam.Asap dihembuskannya jadi desah panjang. Namun Kartareja berpikir, dua buah uang rupiah perak adalah jumlah paling banyak yang disanggupi oleh seorang calon sampai pada saat itu.
          “Jadi begitulah maksudmu, Nak ?”
          “Ya, Kek.”
          “Baiklah.Uang panjarmu bias kuterima.Tetapi besok malam kau harus datang membawa sebuah ringgit emas. Kalau tidak, apa boleh buat. Kau kalah dan uang panjarmu hilang.Bagaimana ?”
          “Kalau aku gagal memperoleh sebuah ringgit emas, maka uang panjarku hilang?” tanya Dower. 
          “Ya !” jawab Kartareja singkat. Rona kelicikan mewarnai wajahnya. Dower termangu, tampak berpikir keras.
          “Kalau engkau berkeberatan, maka terserah.Silahkan berpikir.
          Atau segera pulang ke Pecikalan selagi malam belum larut. Aku akan menunggu pemuda lain, beberapa orang yang akan segera tiba.”
          Gertakan halus Kartareja mengena.Buktinya, Dower menjadi gelisah, lalu berkata.
          “baik, baik, Kek. Kuterima syarat itu.Nah, inilah uang panjar itu.”
          Dower berdiri agar mudah merogoh saku celananya. Sesaat kemudian terdengar kemerincing.Dua buah uang rupiah perak tergeletak di atas meja, berkilat-kilat terkena sinar lampu.Kartareja meraupnya, lalu dimasukkannya ke dalam saku diikat pinggangnya.Pada saat itu muncul Srintil membawa baki berisi teko dan dua buah cangkir.Dipiring ada goring ubi.Ketika meletakkan hidangan itu Srintil menggigit bibir.Sekalipun dia tidak mengangkat muka kea rah Dower, membuat hati pemuda dari Pecikalan itu malah penasaran.Kartareja tersenyum melihat Dower resah dalam duduknya.
          Aku mengenal dengan sempurna setiap sudut tersembunyi di Dukuh Paruk.Ketika Kartareja bercakap-cakap dengan Dower, aku mendengarnya dari balik rumpun pisang di luar rumah. Jadi saat itu sudah kuperoleh gambaran pertama Dowerlah yang akan memenangkan malam bukak klambu. Aku belum mengenal perjaka Pecikalan itu.Tetapi kebencianku kepadanya langsung melangit.
(Hlm. 51-60)
          Kutipan saat malam bukak klambu.
          Aku masih mengintip di emper samping ketika terdengar pertengkaran mulut antara Dower dan Sulam.Sesaat kemudian aku melihat seseorang keluar dari pintu belakang lalu jongkok di bawah pohon pisang.Dari sosok tubuhnya yang kecil aku memastikan Srintil-lah yang keluar.Dengan berjalan berjingkat kudekati dia.
          “Srintil?” tegurku dengan suara berbisik.“Jangan terkejut. Aku Rasus.”
          “Oh!” seru Srintil tertahan. Dia cepat bangkit, merangkulku sekuat tenaga.“Rasus.Dengar, mereka bertengkar di luar.Aku takut, sangat takut.Aku ingin kencing!”
          “Sudah kencing?”
          “Sudah.Tetapi aku takut.Rasus, kau sungguh baik.Kau ada di sini ketika aku sedang diperjual-belikan.”
          “Ya”
          Masih merangkulku kuat-kuat.Srintil mengisak. Ku biarkan dia karena aku pun tak tahu apa yang harus ku perbuat.Kurasakan tubuh Srintil hangat dan bergetar.
          “Aku benci, benci.Lebih baik ku berikan kepadamu.Rasus sekarang kau tak boleh menolak seperti kaulakukan tadi siang.Di sini bukan pekuburan.Kita takkan kena kutuk.Kau mau, bukan?”
          Sepatah pun aku tak bisa menjawab, kerongkonganku terasa tersekat.Karena gelap aku tak dapat melihat dengan jelas.Namun aku merasakan Srintil melepaskan rangkulan, kemudian sibuk melepaskan pakaiannya.
          Tidak beda dengan pengalaman tadi siang di pekuburan Dukuh Paruk. Hanya ini segalanya berlaku dalam gelap.Aku tidak dapat melihat sosok tubuh Srintil dengan jelas, meski aku yakin saat itu dia sudah telanjang bulat.
          Aku percaya, suasana gelap dapat mengubah nilai yang berlaku pada pribdi-pribadi.Orang berpikir lebih primitifdalam suasana tanpa cahaya.Dan sebuah perilaku primitif memang terjadi kemudian antara aku dan Srintil. (Hlm. 76)
         
          Selama dan setelah membaca secara khusuk kutipan tersebut, tanda-tanda apakah yang ditangkap oleh radar-radar penjiwaan, penghayatan, penikmatan, pemahaman dan penafsiran kita?Tentulah, pengalaman-pengalaman etis dan moral, bukan?Kalaupun muncul anggapan sementara orang bahwa peristiwa tersebut memikat perhatian ini karena aspek kemesuman dunia ronggeng, sebenarnya tidak pada tempatnya.Aspek kemesuman tersebut bukan sebuah gambaran pornografi, melainkan suatu realita atau kenyataan yang memang tidak terpisahkan dari dunia ronggeng.Oleh karena itukutipan tersebut di atas setidak-tidaknya menghidangkan masalah etis dan moral yang dihadapi oleh Rasus ketika mengetahui tata cara dan persyaratan menjadi ronggeng. Tokoh Rasus menghadapi dan mengalami pergulatanbatin karena norma-norma etis dan moral yang diikutinya berbenturan dengan norma-norma etis dan moral yang ada dalam dunia peronggengan.Simaklah benturan itu dalam paparan :/Keperawanan Srintil disayembarakan. Bajingan. Banjul buntung ! pikirku./ Aku bukan hanya cemburu. Bukan pula sakit hati karena aku tidak mungkin memenangkan sayembara akibat kemelaratanku serta usiaku yang baru empat belas tahun.Lebih dari itu.Memang Srintil dilahirkan sebagai ronggeng, perempuan milik semua laki-laki.Tetapi, mendengar keperawanannya disayembarakan, hatiku panas bukan main.Celaka lagi, bukak klambu, yang harus dialami oleh Srintil sudah merupakan hukum pasti di Dukuh Paruk. Siapa pun tak bisa mengubahnya, apa pula yang aku yang bernama Rasus. Jadi, dengan perasaan perih aku hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi./
          Kemudian paparan saat Srintil berdialog dengan Rasus: “Rasus kau tak mau? Tanya Srintil dengan suara hampir tak kudengar “Takkan ada orang yang melihat kita di sini.”/ Srin, ini tanah pekuburan. Dekat dengan makam Ki Secamenggala pula.Kita bisa kualat nanti.” Jawabku./ Kulihat Srintil termangu. Napasnya memburu.Rona wajahnya berubah.Terkesan rasa kecewa. Ronggeng Dukuh Paruk itu berdiri seperti batu-batu nisan di belakangnya. Tanpa gerak./“Kita tak bisa berbuat sembrono di tempat ini.”kataku sambil membenahi pakaian Srintil./(Hlm. 67)
            Tokoh Srintil yang menjadi penari Ronggeng Dukuh Paruk. Penari ronggeng Srintil yang secara alamiah memikat perhatian banyak orang dan telah menjadi kaya menurut ukuran desa miskin Dukuh Paruk ternyata harus meringkuk dalam penjara karena dianggap terlibat dengan kegiatan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada akhir September 1965. Padahal Srintil hanya tampil sebagai penari disebuah pasar malam yang digelar oleh orang-orang PKI, sedangkan pengetahuannya mengenai politik dan komunisme sama sekali nol. Srintil dan orang-orang sekitarnya yang tidak tahu-menahu tentang politik terpaksa menjadi korban kekerasan masyarakat dan kesewenangan kekuasaan. Untuk memperjelas hal ini, perhatikan dan bacalah kutipan-kutipan novel Ronggeng Dukuh Paruk berikut ini.
            Atas kesadaran primordial biasanya Srintil rela memberiakan jasa.Namun dalam perkembangannya, tak ada laki-laki Dukuh Paruk yang memiliki cukup keberanian untuk mendekati srintil. Bukan karena Srintil sudah cukup kaya menurut ukuran Dukuh Paruk. Atau karena penampilan lahirnya yang sudah jauh berbeda dengan rata-rata orang di pedukuhan itu. Tetapi terutama karena kepribadian Srintil yang bermartabat. Srintil tidak sama dengan ronggeng-ronggeng sebelumnya, yang menjadikan uang satu-satunya nilai tukar. Semua orang sudah mencatat bahwa Srintil hanya akan melayani laki-laki yang dia sukai. Atau catatan lain yang istimewa; Srintil senang menerima lelaki yang beristri cantik”. (Hlm. 227)
            Pada akhir September 1965 itu Srintil sudah dua minggu manggung terus menerus di arena pasar malam di lapangan kota Dawuan atas nama kelompok Bakar.” (Hlm. 237)
            Sampailah hari pertama bulan Oktober. Hari pertama yang disusul hari berikutnya; suatu masa yang tidak bisa dimengerti oleh siapa pun di Dukuh Paruk. Tiba-tiba mereka merasakan kehidupan menjadi gagu dan limbung. Pasar malam bubar tanpa pengumuman apapun. Dawuan terutama pasarnya yang biasa ramai dan kian hari kian sepi. Orang-orang kelihatan lebih diam dan menunggu.Kebingungan yang melanda Dukuh Paruk sedikit-demi sedikit mencair. Dimulai dengan selentingan berita bahwa di Jakarta, sebuah negeri antah berantah bagi orang Dukuh Paruk, telah terjadi pembunuhan-pembunuhan.Pelaku pembunuhan adalah orang-orang semacam Bakar. Korbannya adalah pejabat-pejabat Negara. Tetapi pada mulanya Dukuh Paruk menampik berita itu.
            “itu kan baru kata orang, “kata Sakarya. “Siapa pun yang membawa kabar itu pasti tidak menyaksikan sendiri.”
            Kemudian suatu malam muncul Bakar bersama tiga temannya di Dukuh Paruk. Sakarya dan Kartareja yang ingin bertanya tentang banyak hal hanya mendapat jawaban singkat. Dan Bakar kelihatan sudah kehilangan ketenangannya.
            “Pokoknya tidak ada apa-apa.Kalian mesti tetap tenang.”
            “Sampean sendiri kelihatan gugup, “kata Sakarya. “Terus teranglah apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
            “Di Jakarta para tentara sedang saling bunuh.”
            “Perang?”
            “ya.”
            “Akan sampai kesini?”
            “Bisa jadi.”
            “Kami harus bagimana”
            “Tenang, kataku.Kalian tidak tahu apa-apa. Dan satu hal; kami akan berada di sini dua-tiga hari. Tetapi kalian harus tutup mulut.Jangan banyak bicara bila tidak ingin ada pelor nyasar.”
            Bakar lenyap setelah tiga hari berada di rumah Sakarya.Selama itu dia bersama teman-temannya hanya keluar bila berhajat.Itu pun dilakukannya pada malam hari.Berita tentang Bakar sampai ke Dukuh Paruk seminggu kemudian. Rumahnya habis dimangsa api. Juga beberapa rumah lain milik orang-orangnya. Polisi atau tentara menahan mereka.Srintil mencoba tersenyum sebagai usaha terakhir menolak kenyataan.Tetapi senyum itu berhenti pada gerak bibir seperti orang hendak menangis. Lama sekali wajahnya berubah menjdi topeng dengan garis-garis muka penuh ironi. Topeng itu tidak hilang ketika dua orang berseragam membawanya ke ruang tahanan di belakang kantor. Srintil berjalan tanpa citra kemanusiaan. Tanpa citra akal budi, tanpa roh.Srintil menjadi sosok yng bergerak seperti orang-orangan ditembus angin. Catatan itu di awali dengan kisah seorang ronggeng cantik berusia dua puluh tahun. Dia dipenjarakan secara fisik dan dikurung secara psikis dalam tembok sejarah yang muncul sebagai keserakahan nafsiah serta petualangan. (Hlm. 244)
            Setelah dibebaskan dari penjara, Srintil berniat menjadi perempuan sewajarnya sambil merindukan cinta seorang lelaki bernama Rasus, teman sepermainannya masa kecil yang ternyata dapat menjadi prajurit. Sayangnya dalam masa penantian yang tidak menentu terjadilah kekerasan terhadap dirinya, yaitu ditawarkan sebagai “teman tidur” oleh orang kenalannya (Bajus) kepada seorang pejabat dari Jakarta yang berkuasa mengatur pelaksanaan sebuah proyek pembangunan waduk di daerah setempat. Srintil yang mengira akan diperistri secara lumrah oleh Bajus lantas mengalami guncangan jiwa sehingga mendadak menjadi gila. Dikemudian hari muncullah Rasus yang berniat mengembalikan kehidupan Srintil dengan membawanya ke rumah sakit jiwa.         
            Niat Srintil yang ingin menjadi perempuan utuh atau perempuan sewajarnya adalah sebuah percobaan memberi makna “filosofis” pada cerita yang sesungguhnya ironis karena di dalamnya terdapat kejadian atu situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan. Kisah tersebut membangun ironi demi ironi terhadap tokoh Srintil  dan pengarang tampaknya benar-benar memberi makna “filosofis” pada cerita ironis yang dengan baik telah dibangunnya.
            Adalah ironis. Bahwa tokoh Srintil yang tentu menaruh harapan besar pada Rasus bukan saja gagal meraih harapannya dari Rasus, melainkan harus menerima kenyataan bahwa Rasus telah meninggalkannya. Perhatikan kutipan di baawah ini.
            “Oh, jadi begitu,” pikir Srintil yang ingin menolak kaenyataan bahwa Rasus telah meninggalkannya, bahkan tanpa pamit”.(Hlm. 113)
            Adalah ironis, bahwa masa penantian yang tidak menentu terhadap Rasus terjadilah kekerasan terhadap dirinya, yaitu ditawarkan sebagai “teman tidur” dan ironis pula ketika Srintil mengira akan diperistri secara lumrah oleh Bajus ternyata Bajus tidak mau memperistri Srintil melainkan malah menawarkan agar dia mau menjadi teman tidur kepada seorang pejabat dari Jakarta yang berkuasa mengatur pelaksanaan sebuah proyek pembangunan waduk di daerah setempat .Dia tak bisa berbuat apa-apa lagi, dan tampaknya memilih pasrah dengan kenyataan pahit yang dialami sehingga lantas Srintil mengalami guncangan jiwa sehingga mendadak menjadi gila. “Oalah Gusti Pangeran, oalah biyung, kaniaya temen awakku..” kata tokoh Srintil dalam nada amat sedih. Inilah yang saya maksud dengan memberi makna “filosofis”, karena mengandung falsafah atau filsafat dan pengalaman tentang hakikat kepribadian atau pribadi manusia,misalnya apa sebab manusia dapat tampak bahagia atau sedih?  Dari pertanyaan tersebut, mungkin dapat di peroleh gagasan filsafat seperti ini, bila seseorang keinginannya atau citanya tak tercapai maka seseorang akan merasakan sedih bahkan bila jiwanya tak kuat bisa saja dapat mendadak mengalami guncangan jiwa hingga menjadi gila.Untuk memperjelas hal ini, perhatikan dan bacalah kutipan berikut ini.

Kamis, 25 November 2010

Linguistik

Linguistik (IPA: /liŋ'gwistika/) adalah ilmu bahasa. Tergantung sudut pandang, pendekatan seorang peneliti, maka ilmu linguistika seringkali digolongkan pada ilmu kognitif, psikologi dan antropologi.